KUPANG, PENA INDONESIA — Forum Kupang Green and Clean (KGC) Kelurahan Liliba resmi meluncurkan inovasi Bank Sampah Digital melalui aplikasi SILIBA (Sistem Informasi Bank Sampah Liliba). Langkah ini menjadi terobosan baru sekaligus bank sampah berbasis digital pertama yang beroperasi di Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejak diperkenalkan pada 20 Juni 2026, program digitalisasi pengelolaan sampah ini telah mencatatkan pencapaian signifikan. Hingga saat ini, sebanyak 1.720 kilogram atau lebih dari 1,7 ton sampah terpilah berhasil dikumpulkan dan dikelola dari masyarakat setempat.
Ketua Forum Kupang Green & Clean, Joseph Leonard Kale (Jonard), menjelaskan bahwa keberadaan aplikasi SILIBA dihadirkan untuk memodernisasi sekaligus mempermudah proses pencatatan serta pengawasan penimbangan sampah.
“SILIBA hadir agar pengelolaan sampah makin transparan dan mudah, baik bagi pengurus maupun warga sebagai pengguna. Tidak perlu lagi pencatatan manual di buku. Cukup melalui ponsel, nasabah bisa memantau saldo tabungan, riwayat penimbangan, hingga penarikan uang secara real-time,” ujar Jonard.
Ia menambahkan, operasional Bank Sampah Unit KGC Liliba melayani masyarakat melalui dua sistem utama:
- melalui layanan jemput bola langsung ke rumah warga di tingkat RT/RW serta penjemputan sampah terpilah dari anak-anak sekolah minggu dan PAUD
- penerapan sistem administrasi yang sepenuhnya berbasis digital.
Langkah ini tidak hanya berfokus pada pembersihan lingkungan, tetapi juga memberikan edukasi sejak dini serta dampak ekonomi langsung bagi warga.
Inovasi ini dijalankan melalui kolaborasi bersama Bank Sampah Mutiara Timor guna mengoptimalkan rantai daur ulang dan penyaluran sampah terpilah secara berkelanjutan.
Langkah strategis ini turut mendapat apresiasi tinggi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kelurahan Liliba. Kehadiran Bank Sampah Digital SILIBA dinilai sejalan dengan roadmap pengelolaan sampah Pemerintah Kota Kupang dalam mendorong masyarakat memilah sampah langsung dari sumbernya.
Melalui sinergi antara teknologi digital, partisipasi masyarakat, dan dukungan pemerintah daerah, Forum KGC Liliba berharap sistem ini dapat mereplikasi kesadaran lingkungan yang lebih luas di seluruh wilayah NTT. (LL/gpi)
