KUPANG, PENA INDONESIA — Upaya menemukan kasus Tuberkulosis (TB) secara lebih cepat terus diperkuat di Kota Kupang. Pemerintah Kota Kupang mendukung penuh kegiatan Tracing TB Terintegrasi yang digelar di Pustu Mantasi, RT 1/RW 1, Kelurahan Mantasi, Senin (5/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah bersama untuk mempercepat penemuan kasus TB sekaligus mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan lingkungan. Dukungan tersebut diberikan Pemerintah Kota Kupang di bawah kepemimpinan Wali Kota dr. Christian Widodo, dengan melibatkan sejumlah pihak dalam proses pemeriksaan dan penelusuran.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, Retno. Pelaksanaannya merupakan kerja sama Eksekutif PKBI Kota Kupang bersama Puskesmas Manutapen, dengan kehadiran Lurah Mantasi Fransiskus Arkiang serta dukungan tenaga radiologi dari RS Angkatan Laut.
Konsep tracing TB terintegrasi ini tidak hanya berfokus pada menemukan warga yang mengalami gejala, tetapi juga membuka akses pemeriksaan kesehatan agar masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal.
Hal ini penting mengingat TB merupakan penyakit menular yang dapat menyebar melalui udara, terutama ketika penderita TB paru berbicara, batuk, atau bersin. Karena itu, semakin cepat seseorang yang terduga TB ditemukan dan diperiksa, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan dan risiko penularan dapat ditekan.
Kenali Gejalanya, Jangan Tunggu Parah
Masyarakat perlu lebih peka terhadap sejumlah gejala yang dapat mengarah pada TB. Batuk yang berlangsung lama, terutama dua minggu atau lebih, perlu mendapat perhatian. Gejala lain yang patut diwaspadai antara lain demam berkepanjangan, berkeringat pada malam hari, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, tubuh mudah lelah, serta pada kondisi tertentu batuk disertai darah.
Namun, adanya gejala tersebut bukan berarti seseorang pasti menderita TB. Pemeriksaan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Melalui kegiatan tracing seperti di Mantasi, warga memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dan mendapatkan pemeriksaan sehingga dugaan kasus dapat ditindaklanjuti lebih cepat.
Cara Sederhana Mengurangi Risiko Penularan TB
- Pencegahan TB juga tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kesehatan. Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari:
- Segera periksa jika mengalami batuk berkepanjangan, terutama dua minggu atau lebih.
- Gunakan masker ketika sedang mengalami batuk atau memiliki gejala infeksi saluran pernapasan.
- Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, kemudian segera cuci tangan.
- Pastikan rumah memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang baik agar udara tidak terus-menerus terperangkap di dalam ruangan.
- Hindari membuang dahak sembarangan dan jaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.
- Jika sudah dinyatakan menderita TB, minum obat secara teratur sesuai anjuran tenaga kesehatan hingga tuntas. Pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan masalah resistensi obat.
- Orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan pasien TB sebaiknya berkonsultasi dengan petugas kesehatan untuk mengetahui apakah perlu pemeriksaan atau skrining lebih lanjut.
Pesan utama dari kegiatan ini sederhana: TB bisa ditangani, tetapi kasusnya harus ditemukan dan diobati dengan benar.
Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan. Warga tidak perlu menunggu kondisi semakin berat untuk datang ke fasilitas kesehatan.
Melalui kolaborasi Pemkot Kupang, Dinas Kesehatan, PKBI, fasilitas pelayanan kesehatan, serta masyarakat, program Tracing TB Terintegrasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama untuk menemukan, mengobati, dan mencegah TB di lingkungan masyarakat.
Bersama akhiri TB. Dimulai dari peduli, memeriksa, dan tidak mengabaikan gejala. (DWN/gpi)
