KUPANG, PENA INDONESIA – Ancaman bencana kesehatan di Kota Kupang bukan sekadar deretan angka kaku dalam lembaran laporan riset. Di balik setiap data penyakit yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), ada dinamika cuaca ekstrem dan realitas kehidupan masyarakat lokal yang berkelindan erat.
Dalam wawancara khusus pada Kamis (24/9/2026), Norman Riwu Kaho, Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) sekaligus Narasumber Program SIAP SIAGA, memaparkan pentingnya membedah risiko kesehatan berbasis wilayah secara lebih tajam, peka, dan bernyawa. Menurutnya, keterbatasan data historis di lapangan tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan langkah pengkajian risiko bencana.
“Data jumlah kasus penyakit memang menjadi indikator utama untuk mengukur parameter Bahaya (Hazard). Namun, ketika data historis pasif belum sepenuhnya terkumpul, kita tidak boleh kehilangan arah,” ujar Norman saat membedah pemetaan risiko kesehatan wilayah Kota Kupang.
Membaca Isyarat Lingkungan saat Data Terbatas
Norman menekankan bahwa aspek bahaya tetap bisa ditakar melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kenyataan warga. Salah satunya adalah membaca kerentanan lingkungan dan dinamika pergerakan vektor penyakit.
Frekuensi genangan air, keterbatasan akses air bersih, riwayat banjir, hingga kepungan angin kencang berdebu khas musim Tenggara merupakan isyarat nyata dari ancaman kesehatan yang terus mengintai. Jika angka kuantitatif belum lengkap, penggunaan penilaian kualitatif (Qualitative Scoring) berbasis konsensus maupun proxy data seperti rekapitulasi rawat inap di rumah sakit daerah menjadi jalan keluar yang tetap membumi dan akurat.
Selain itu, keterlibatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kemenkes, Profil Kesehatan Kota, serta Laporan Bulanan Puskesmas (LB1) memegang peranan krusial sebagai peta navigasi awal untuk mendeteksi sinyal bahaya secara dini.
Bayang-Bayang Wabah di Kota Kasih
Melihat karakteristik Kota Kupang, ritme risikonya sangat berdenyut mengikuti pergeseran musim dan fenomena iklim setempat. Beberapa ancaman penyakit utama yang menuntut kewaspadaan penuh antara lain:
- Demam Berdarah Dengue (DBD): Ancaman endemik tahunan yang selalu memuncak saat transisi musim hujan (Desember–Maret). Pola penanganannya yang berbasis wilayah RT/RW menjadikan pencatatan tingkat kelurahan mutlak diperlukan.
- Diare dan Penyakit Berbasis Air: Merebak terutama saat kemarau panjang memicu krisis air bersih, memaksa warga bertahan di tengah keterbatasan sarana sanitasi.
- ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut): Konsisten berada di puncak angka kesakitan di Kota Kupang. Hembusan angin kencang dan paparan debu kering di musim kemarau menjadi pemicu utama yang mengganggu saluran pernapasan warga.
- Rabies & Eliminasi Malaria: Meski Kota Kupang telah mengantongi status Eliminasi Malaria, kewaspadaan terhadap kasus impor dari wilayah endemis tetap harus dijaga. Di sisi lain, dinamika Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) di Pulau Timor menuntut pemantauan presisi hingga ke tingkat kelurahan.
Menyulam Data dari Akar Rumput
Untuk menyusun Kajian Risiko Bencana (KRB) yang berpihak pada keselamatan masyarakat, pengumpulan data tidak bisa dipandang sebagai prosedur administratif semata. Norman menyarankan penyelarasan data berbasis kelurahan dalam rentang tiga tahun terakhir.
Langkah teknisnya berakar dari koordinasi bersama Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Kupang melalui laporan SKDR mingguan, lalu menelusuri data terpilah di 11 Puskesmas se-Kota Kupang yang menjangkau tiap kelurahan hingga Posyandu.
Sinergi antara data empiris, pengamatan lingkungan, dan kepekaan terhadap ritme alam itulah yang akan mengubah angka-angka statistik menjadi benteng perlindungan kesehatan warga Kupang yang tangguh dan humanis. (DWN/gpi)
