KUPANG, PENA INDONESIA – Pelantikan pengurus baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Kupang di Aula Rumah Jabatan Wali Kota, Sabtu (6/6), menjadi momentum krusial bagi arah baru pembinaan olahraga di Kota Kasih. Dalam arahannya, Wali Kota Kupang menegaskan bahwa dedikasi di kepengurusan KONI yang baru dibentuk ini murni merupakan ruang pengabdian, bukan panggung mengejar status sosial.
“Tentu ini bukan tentang jabatan, bukan tentang seberapa tinggi status kita, tetapi tentang seberapa dalam kita mau turun menjelam dalam pelayanan, khususnya memajukan olahraga Kota Kupang,” tegas Wali Kota di hadapan jajaran pengurus yang dilantik.
Dalam kesempatan tersebut, apresiasi khusus juga diarahkan kepada jajaran pengurus periode sebelumnya, termasuk Jefri Riwu Kore dan Faren Funay. Fondasi dan dinamika olahraga Kota Kupang saat ini dinilai tidak lepas dari kerja keras kepengurusan terdahulu yang meletakkan dasar pembinaan atlet daerah.
“Saya percaya jabatan itu memiliki batas waktu, tetapi keteladanan tidak memiliki batas waktu. Keteladanan yang Pak Faren dan Pak Jefri telah berikan pasti akan diteruskan oleh teman-teman,” ujarnya.
Nostalgia dan Rekam Jejak di Dunia Olahraga
Bagi Wali Kota Kupang, agenda KONI merupakan atmosfer yang familiar. Jauh sebelum menduduki kursi legislatif dua periode hingga menjadi kepala daerah, dirinya telah aktif dalam ekosistem olahraga lokal. Di sela sambutan, ia sempat merefleksikan pengalamannya merintis kejuaraan bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang, serta rekam jejaknya yang pernah memimpin sejumlah cabang olahraga strategis, seperti Ketua Bidang Kesehatan KONI NTT, perintis Wushu NTT, hingga posisinya saat ini sebagai Ketua Umum Tarung Derajat Provinsi NTT.
Sentuhan personal juga terlihat saat ia berseloroh mengenai seragam KONI lamanya yang sudah tidak muat lagi karena kenaikan berat badan. Hal ini digambarkannya sebagai bukti perjalanan panjang keterlibatannya di dunia olahraga daerah.
Filosofi Kerja Sama Tim untuk Kejuaraan
Lebih dari sekadar seremonial, Wali Kota menekankan bahwa tantangan olahraga ke depan memerlukan transformasi karakter, sportivitas, dan yang paling utama: soliditas internal (teamwork). Manajemen prestasi tidak bisa bertumpu pada kemampuan individu semata, melainkan integrasi total antara pengurus, pelatih, atlet, hingga penyediaan sarana dan prasarana.
“Talenta hanya memenangkan satu pertandingan, tetapi kerja sama tim dapat memenangkan sebuah kejuaraan utuh. Semangat kerja sama tim itulah yang kita bawa nanti di pengurus KONI Kota Kupang yang baru,” kata Wali Kota.
Menutup arahannya, ia optimistis kombinasi komposisi kepengurusan baru yang mengintegrasikan unsur aparatur sipil negara (ASN), akademisi, hingga kalangan profesional akan mampu mempercepat akselerasi prestasi olahraga Kota Kupang.
“Orang bijak bilang, coming together is a beginning, keeping together is progress, working together is success. Datang bersama adalah permulaan, tetap tinggal bersama adalah sebuah kemajuan, dan dapat bekerja bersama adalah sebuah kesuksesan,” pungkasnya.
Liputan: Tim Redaksi Garis Pena Indonesia
