KUPANG, PENA INDONESIA – Sebanyak 5.000 anggota Pramuka memadati rute jalanan Kota Kupang dalam ajang Karnaval Budaya Jambore Daerah (Jamda) X Gerakan Pramuka Nusa Tenggara Timur (NTT) 2026. Mengambil titik start dari Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur NTT dan finish di Saboak Taman Nostalgia, pawai ini tidak hanya memamerkan kekayaan budaya daerah, tetapi juga berhasil menggerakkan ekonomi kerakyatan serta menyuarakan berbagai isu sosial mendesak.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 19.00 WITA ini diikuti kontingen Jamda dari 17 Kwartir Cabang (Kwarcab) se-NTT, serta Pramuka Penggalang, Penegak, dan Pandega dari Gugus Depan (Gudep) se-Kota Kupang.
Dorong Pertumbuhan UMKM Lokal
Tingginya antusiasme peserta dan warga yang memenuhi rute karnaval memberikan dampak ekonomi langsung (multiplier effect) bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta penyedia jasa di Kota Kupang.
Saboak Taman Nostalgia yang menjadi lokasi finish mendadak disebu pembeli. Puluhan pedagang kuliner, kriya, dan jajanan lokal mencatatkan lonjakan penjualan hingga berlipat ganda dibanding hari biasa. Selain pedagang, penyedia jasa transportasi lokal dan pengelola perparkiran di sekitar rute turut meraup untung.
“Karnaval budaya ini membuktikan bahwa kegiatan kepramukaan tidak hanya fokus pada pembentukan karakter generasi muda, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan secara langsung bagi masyarakat Kota Kupang,” tegas Ketua Kwarda NTT.
Kedatangan rombongan karnaval di titik finish disambut hangat oleh Wakil Wali Kota Kupang, Serena.
“Selamat datang di Saboak, pusat ekonomi kreatif di Kota Kupang. Jambore bukan hanya menyisakan cerita, tapi harus menumbuhkan integritas,” pesan Wawali Serena saat menerima peserta Jamda X.
Panggung Kampanye Isu Sosial Daerah
Selain mengenakan pakaian adat dan menampilkan tarian khas dari 17 kabupaten/kota, para peserta memanfaatkan pawai ini sebagai media kampanye sosial. Setiap kontingen membawa pesan moral dan tawaran solusi atas isu-isu strategis di NTT, antara lain:
- Pendidikan & Lingkungan Hidup: Aksi nyata penanganan sampah, peningkatan literasi digital, dan adaptasi perubahan iklim tingkat lokal.
- Kesehatan & Pembangunan Daerah: Suara pemuda dalam pencegahan stunting, perlindungan anak, serta penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
- Persatuan & Inklusivitas: Menjadikan keberagaman budaya sebagai modal sosial untuk pembangunan NTT yang inklusif dan berkelanjutan.
Jambore Daerah NTT 2026 sendiri merupakan agenda edukatif lima tahunan bagi Pramuka Penggalang se-NTT. Lewat perpaduan pesan sosial dan atraksi budaya ini, Pramuka NTT menegaskan perannya sebagai agen perubahan (agent of change) yang peka terhadap dinamika daerah, sekaligus mencetak calon pemimpin masa depan yang berwawasan luas dan berakar pada kearifan lokal.
Editor: Tim Redaksi Garis Pena Indonesia
